Selasa, 27 April 2010

Women. Diamond, and Gay

Saya teringat, beberapa waktu yang lalu (agak lama juga) saya menonton beberapa film baik lokal maupun hollywood yang memunculkan quotes mengenai hal-hal tertentu yang dianggap sebagai ”women’s best friend”. Dalam Moulin Rouge, diamonds lah yang dianggap sebagai ”women’s best friend”. Terlalu sering rasanya wanita dikaitkan dengan materi. Sebagian orang kerap kali berpikir dangkal dalam menilai wanita. Wanita pasti akan lebih bahagia jika bersama laki-laki dengan harta melimpah, yang setiap saat dapat membelikannya ini dan itu, dapat membawanya ke tempat-tempat kencan fancy yang tidak mungkin dikunjungi ”orang biasa”.
Sebagai seorang wanita, saya tentu saja tidak setuju dengan quote itu. Saya pribadi tidak terlalu mempedulikan materi dalam memilih calon pasangan. Beberapa orang terdekat saya juga telah membuktikan bahwa mereka bisa berbahagia dengan pilihan hidupnya yang sekarang, meskipun mereka tidak dibelikan ini dan itu, atau dibawa ke restoran dengan waiter yang terlalu ramah (mungkin di training untuk menjadi seperti itu agar customer tetap nyaman walaupun harus tercengang dengan banyaknya rupiah yang tertera pada bill, setelah makan malam dengan sepotong tipis daging sapi impor).
Apakah hanya materi yang menjadi kriteria wanita dalam memilih pasangan? I strongly disagree.
Pada dasarnya, wanita yang penuh dengan problematika hati, yang kerap kali menangis hanya karena menonton friends (adegan ross putus dengan rachel, sedih loh.hehe), yang marah-marah seperti orang kesetanan pada saat PMS, sampai yang terkadang berniat minum 15 butir obat tidur hanya karena tidak bisa berhenti memikirkan masalah tertentu, adalah makhluk yang fragile.(bagi para wanita yang tidak merasa seperti itu, saya acungkan 4 jempol untuk anda, saya berikan standing applause untuk anda, saya click ”like this” untuk anda =P).
Hal tersebut cenderung membuat wanita butuh diperlakukan secara khusus. Kami sensitif, oleh karena itu kami membutuhkan mereka yang peka terhadap kebutuhan khusus kami. Jika dianalogikan, seperti layaknya bayi yang baru lahir, mereka fragile, sensitif, oleh karena itu harus diberikan perhatian yang khusus oleh ibunya. Disusui, ditimang-timang, jika menangis langsung diberikan respon, dsb. Bayi yang baru lahir tidak akan lebih bahagia jika tidur dalam buaian merk ternama atau diberikan susu formula paling mahal sedunia jika ibunya tidak berada di sisinya.
Ya, seperti itulah gambaran wanita pada umumnya. Kami membutuhkan laki-laki yang peka, bukan laki-laki kelebihan harta.
Mungkin karena sifat dasar wanita itulah yang menjadi salah satu pertimbangan saya dan sebagian wanita lainnya dalam memilih pria. Masalahnya, sangat sulit menemukan laki-laki dengan spesifikasi seperti itu. Bukankah sifat laki-laki memang bertentangan dengan sifat wanita? Bukankah memang sifat dasar laki-laki yang tidak peka, bukan good listener dan egois?
Oleh karena itu, ketika beberapa waktu yang lalu teman saya menemukan laki-laki dengan spesifikasi demikian, saya ikut bahagia. Ia berkata, pacarnya sangat peka, good listener, sangat memahami kebutuhannya, dsb. Bahkan ia sampai menganggap pacarnya tersebut adalah teman terbaiknya, karena ia merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya baik dari sahabat wanita atau sahabat pria. Teman saya itu terlihat sangat bahagia berpacaran dengan si laki-laki idaman setiap wanita ini. Selain sifatnya yang sangat pengertian tersebut, pria ini juga tampan, cerdas, memiliki karier yang baik dan cukup religius. Saya berkata dalam hati betapa beruntungnya dia. Selama mereka berpacaran hampir tidak pernah saya mendengar keluhan dari teman saya mengenai prianya tersebut. Ia bahkan sudah memutuskan bahwa pria inilah yang nantinya akan ia pilih untuk menjadi suami. Setelah dua tahun lamanya dongeng percintaan mereka saya amati, dan saya dambakan akan terjadi juga pada kehidupan saya juga, tiba-tiba munculah berita mengejutkan itu. Pasangan itu putus. Si laki-laki pengertian idaman semua wanita itu memutuskan hubungan dengan teman saya secara tiba-tiba. Dua bulan kemudian, setelah teman saya menyelidikinya, ia baru menemukan fakta bahwa mantan pacar tercintanya itu GAY. Mantannya tersebut rupanya sudah memiliki komitmen hubungan dengan seorang laki-laki yang selama ini ternyata sudah tidak asing lagi, bahkan ketika ia masih berpacaran dengan teman saya. Ironis memang.
Ia tampan, cerdas, mapan, pendengar yang baik, peka, pengertian, dan GAY.
Saya langsung teringat quote di film lokal yang menurut saya termasuk salah satu film Indonesia dengan kualitas terbaik pada masa ini (ditengah-tengah menjamurnya film ”sampah” Indonesia dengan judul yang sudah tidak karuan lagi), yaitu film Arisan.
”Gays are women’s best friend.” I agree.
Bagaimana tidak, ketika orang lain sibuk adu argumen dengan pacar ”straight”nya yang tidak mau mengalah bahkan dalam hal-hal kecil, teman saya dengan pacarnya (yang ternyata gay) tersebut justru asyik berbelanja berdua sambil bergosip.
Mungkin anda akan berpikir, tulisan ini terkesan agak desperate dan pathetic. Tapi untuk saat ini, saya sendiri sudah mulai mencoba hidup dengan menyadari bahwa tidak ada laki-laki straight yang dapat mengerti wanita sebaik laki-laki gay mengerti wanita.
Jadi mungkin saya menyarankan kepada sebagian wanita yang masih mengeluh dengan tingkah pacarnya yang tidak peka, egois, dsb, dan berpikir bahwa suatu saat nanti pasti ada laki-laki yang benar-benar mengerti diri anda sepenuhnya, untuk tidak hidup dalam fairytale semacam itu.
Hadapi kenyataan bahwa laki-laki dan wanita tidak akan pernah sama, dan tidak akan pernah sepenuhnya saling mengerti satu sama lain.
Jika masih mendambakan laki-laki fairytale seperti tadi, pacari saja pria gay.
Believe me, it works.

-Karina-

01 Juli 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar