Sehari yang lalu tiba-tiba saya menyadari bahwa sudah sangat lama saya tidak melakukan sesuatu yang sering saya lakukan di masa lalu. Menulis. Hal itu tidak sepenuhnya benar karena faktanya setiap minggu minimal saya menulis selembar tulisan akademik dalam bentuk review, makalah, atau apapun lah yang intinya tidak saya kerjakan dengan sukarela, melainkan karena tuntutan nama saya terdaftar sebagai mahasiswa sosiologi yang mencoba meraih gelar sarjana.
Namun definisi menulis yang saya maksud disini bukanlah tulisan akademik, melainkan tulisan yang memang dilahirkan karena adanya passion dari diri saya sendiri untuk menuliskannya.
Pada dasarnya saya memang suka menulis. Sejak kecil bahkan saya dengan kosa kata yang masih sangat minim sering sekali menulis cerita pendek, salah satu yang saya ingat mengisahkan tentang bocah kelas satu SD bernama Ani dan Ana yang saling bermusuhan karena suka dengan bocah laki-laki yang sama. (saya tertawa dalam hati karena bahkan saya masih mengingat nama karakter dan isi ceritanya yang sangat sinetron itu). Saya juga (percaya tidak percaya) sampai saat ini masih mengisi diary sekalipun tidak serutin waktu jaman SMP dulu. Enak sekali rasanya ketika bisa mengeluarkan sampah-sampah di dalam hati dan pikiran, juga top secrets kehidupan pribadi yang heboh tanpa harus diketahui siapapun.
Belakangan ini saya jarang sekali menulis. Bahkan diary saya sudah lama tidak saya sentuh. Mungkin ini karena intensitas menulis akademik saya sudah cukup menyita waktu dan pikiran sehingga untuk mencoba menulis hal lain yang lebih sederhana saja saya enggan. Apakah ini memang karena otak dan jemari saya yang sudah kelelahan atau hanya karena saya sudah terlanjur malas mencoba sedikit keluar dari sistem dan melakukan hal lain?
Beberapa teman dekat yang sangat mengenal saya pasti sangat tahu kalau impian terbesar saya adalah menjadi chief editor di majalah yang kata sebagian orang ”majalah kapitalis” itu, COSMOPOLITAN fun fearless female magazine, atau setidaknya menjadi columnist seperti Carrie Bradshaw. Spesifikasi Columnist sudah pasti mengharuskan saya untuk dapat menjadi penulis yang produktif. Untuk desk job chief editor pada dasarnya saya harus dapat menciptakan ide, mengkritisi, dan menganalisa tulisan-tulisan orang dengan baik, apa jadinya kalau diri saya sendiri tidak mengerti tentang tulisan yang baik, apa jadinya kalau saya sendiri bukan penulis yang baik?
Mimpi yang menjadi nyata tanpa melakukan suatu tindakan untuk menggapainya hanyalah mimpi yang kerap kali diceritakan dalam walt disney fairytales. Mulai hari ini saya akan mencoba menulis sesuatu yang benar-benar diinginkan hati saya lagi. Saya memang penulis.
Karina
1 April 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar