Selasa, 27 April 2010
DUA PULUH
Utamakan rencana yang sudah di susun sebelumnya, jangan terlalu sering bermain dan keluar dari sistem.
Antisipasi dan waspada dengan segala hal yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, jangan terlalu banyak mimpi.
Perbaiki pola hidup, lebih terorganisir dari sebelumnya.
Usahakan tidak terlalu banyak mengeluh, seberat apapun aktifitas yang sedang dijalani.
Laksanakan sesuatu yang belum sempat terlaksana pada tahun-tahun sebelumnya.
Ulangi terus hal baik yang pernah dilakukan untuk seterusnya.
Hargai pemberian Allah.
DUAPULUH harus mulai saya lakukan sejak 21 April 2009 sampai seterusnya.
wish me luck
25 April 2009
-Karina, yang sudah berumur kepala 2-
My mom finally asked
Karina
17 April 2009
April 5th, The Unpredictable Day
Kali ini Tuhan tidak sedikitpun memberikan tanda-tanda kepada saya, tidak seperti pada kejadian setahun sebelumnya , tentu saja dengan tokoh-tokoh yang berbeda. Pada saat itu Tuhan masih memberikan saya firasat kalau saya tidak seharusnya bersama orang yang seringkali secara sembunyi-sembunyi memberikan perhatian lebih kepada wanita lain selain saya. Tapi kali ini Tuhan tidak memberikan firasat apapun. Saya tidak pernah berpikir Dia dapat berubah dalam waktu 2-3 hari saja, saat itu menurut saya hal tersebut sangat tidak mungkin terjadi pada dirinya sekalipun tidak setiap saat saya dapat mengamatinya. Dia adalah hal terbaik selain keluarga dan teman-teman yang ada dalam hidup saya pada saat itu. Dia orang baik. Dia hampir sempurna.
Tapi yang terjadi pada tanggal 5 April itu benar-benar unpredictable. Orang yang sudah hampir delapan bulan menjalani hari-harinya sebagai "pacarnya karin" itu mendadak berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda dengan "pacarnya karin" beberapa hari sebelumnya. Ternyata perubahan itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Proses dalam dirinya ini sangat jauh berbeda dengan proses evolusi diri saya ketika berusaha untuk menerima kenyataan ini. Keyakinannya untuk berhenti menjadi "pacarnya karin" terlihat sangat matang. Saking matangnya sampai-sampai ia sama sekali tidak memberikan sela bagi saya untuk dapat memahami segala sesuatu yang ada dalam pikirannya. Saking yakinnya ia sama sekali mengabaikan kata apapun yang keluar dari mulut saya untuk mempertahankan semuanya. Dia ingin berhenti mentolerir kekurangan saya.
Segala hal ia ucapkan untuk meyakinkan saya agar menerima keputusannya yang menurutnya adalah "keputusan yang terbaik untuk aku". Tapi tidak untuk saya. Segala cara ia lakukan sampai mengucapkan kalimat-kalimat klise seperti "kamu pantas dapetin yang lebih dewasa dari aku." , Bahkan sampai kalimat paling kasar seperti "kamu pantas dapetin orang yang bisa nerima kamu apa adanya. tapi aku nggak bisa. "
saya mungkin tidak memiliki kualitas "sempurna" seperti yang mungkin ia rasakan ada pada dirinya. saya hanya manusia standar yang mencoba untuk dapat selalu berbenah diri dan mencoba melihat kekurangan yang ada dalam diri orang lain dengan cara yang berbeda.
5 April 2009 adalah hari dimana saya semakin menyadari bahwa tidak ada manusia yang "hampir sempurna". saya, dia, dan semua orang di dunia ini dapat dikatakan jauh dari sempurna.
5 April 2009 adalah hari dimana saya semakin menyadari bahwa masalah dapat datang tanpa memberitahu terlebih dahulu.
5 April 2009 adalah hari dimana saya semakin menyadari bahwa saya sedang dalam proses pendewasaan diri dan berjuang melawan ego.
5 April 2009 adalah hari dimana saya semakin menyadari bahwa tidak semua firasat baik mengenai seseorang dapat terbukti secara real.
5 April 2009 adalah hari dimana saya semakin menyadari bahwa hari, adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
it's unpredictable day.
PIM, pals, Long time no see!!
Sejak kejadian itu dan kenyataan kalau di PIM banyak sekali manusianya(baik manusia berniat baik atau berniat buruk), PIM menjadi tempat yang sudah tidak terlalu mengasyikan lagi untuk hang out. Entah saya sok dewasa atau bagaimana, tapi terkadang sangat “ABG” rasanya kalau weekend jalan-jalan ke pim bersama teman-teman/pacar.
Tapi sore ini ternyata saya lumayan kangen dengan PIM dan kangen sekali jalan-jalan dengan teman-teman. Jadi saya mau mandi dan siap-siap berangkat kesana untuk nonton film ketiga mobil-mobil modifikasi yang balapan di jalan raya(btw, saya tidak pernah nonton film pertama dan keduanya karena menurut saya tidak menarik). Ya sudahlah, yang penting hari ini saya ke PIM dengan teman-teman senasib dan bisa sama-sama menghilangkan rasa mumet setelah seminggu kuliah. PIM..,I’m coming! =D
Karina
4 April 2009
Women. Diamond, and Gay
Sebagai seorang wanita, saya tentu saja tidak setuju dengan quote itu. Saya pribadi tidak terlalu mempedulikan materi dalam memilih calon pasangan. Beberapa orang terdekat saya juga telah membuktikan bahwa mereka bisa berbahagia dengan pilihan hidupnya yang sekarang, meskipun mereka tidak dibelikan ini dan itu, atau dibawa ke restoran dengan waiter yang terlalu ramah (mungkin di training untuk menjadi seperti itu agar customer tetap nyaman walaupun harus tercengang dengan banyaknya rupiah yang tertera pada bill, setelah makan malam dengan sepotong tipis daging sapi impor).
Apakah hanya materi yang menjadi kriteria wanita dalam memilih pasangan? I strongly disagree.
Pada dasarnya, wanita yang penuh dengan problematika hati, yang kerap kali menangis hanya karena menonton friends (adegan ross putus dengan rachel, sedih loh.hehe), yang marah-marah seperti orang kesetanan pada saat PMS, sampai yang terkadang berniat minum 15 butir obat tidur hanya karena tidak bisa berhenti memikirkan masalah tertentu, adalah makhluk yang fragile.(bagi para wanita yang tidak merasa seperti itu, saya acungkan 4 jempol untuk anda, saya berikan standing applause untuk anda, saya click ”like this” untuk anda =P).
Hal tersebut cenderung membuat wanita butuh diperlakukan secara khusus. Kami sensitif, oleh karena itu kami membutuhkan mereka yang peka terhadap kebutuhan khusus kami. Jika dianalogikan, seperti layaknya bayi yang baru lahir, mereka fragile, sensitif, oleh karena itu harus diberikan perhatian yang khusus oleh ibunya. Disusui, ditimang-timang, jika menangis langsung diberikan respon, dsb. Bayi yang baru lahir tidak akan lebih bahagia jika tidur dalam buaian merk ternama atau diberikan susu formula paling mahal sedunia jika ibunya tidak berada di sisinya.
Ya, seperti itulah gambaran wanita pada umumnya. Kami membutuhkan laki-laki yang peka, bukan laki-laki kelebihan harta.
Mungkin karena sifat dasar wanita itulah yang menjadi salah satu pertimbangan saya dan sebagian wanita lainnya dalam memilih pria. Masalahnya, sangat sulit menemukan laki-laki dengan spesifikasi seperti itu. Bukankah sifat laki-laki memang bertentangan dengan sifat wanita? Bukankah memang sifat dasar laki-laki yang tidak peka, bukan good listener dan egois?
Oleh karena itu, ketika beberapa waktu yang lalu teman saya menemukan laki-laki dengan spesifikasi demikian, saya ikut bahagia. Ia berkata, pacarnya sangat peka, good listener, sangat memahami kebutuhannya, dsb. Bahkan ia sampai menganggap pacarnya tersebut adalah teman terbaiknya, karena ia merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya baik dari sahabat wanita atau sahabat pria. Teman saya itu terlihat sangat bahagia berpacaran dengan si laki-laki idaman setiap wanita ini. Selain sifatnya yang sangat pengertian tersebut, pria ini juga tampan, cerdas, memiliki karier yang baik dan cukup religius. Saya berkata dalam hati betapa beruntungnya dia. Selama mereka berpacaran hampir tidak pernah saya mendengar keluhan dari teman saya mengenai prianya tersebut. Ia bahkan sudah memutuskan bahwa pria inilah yang nantinya akan ia pilih untuk menjadi suami. Setelah dua tahun lamanya dongeng percintaan mereka saya amati, dan saya dambakan akan terjadi juga pada kehidupan saya juga, tiba-tiba munculah berita mengejutkan itu. Pasangan itu putus. Si laki-laki pengertian idaman semua wanita itu memutuskan hubungan dengan teman saya secara tiba-tiba. Dua bulan kemudian, setelah teman saya menyelidikinya, ia baru menemukan fakta bahwa mantan pacar tercintanya itu GAY. Mantannya tersebut rupanya sudah memiliki komitmen hubungan dengan seorang laki-laki yang selama ini ternyata sudah tidak asing lagi, bahkan ketika ia masih berpacaran dengan teman saya. Ironis memang.
Ia tampan, cerdas, mapan, pendengar yang baik, peka, pengertian, dan GAY.
Saya langsung teringat quote di film lokal yang menurut saya termasuk salah satu film Indonesia dengan kualitas terbaik pada masa ini (ditengah-tengah menjamurnya film ”sampah” Indonesia dengan judul yang sudah tidak karuan lagi), yaitu film Arisan.
”Gays are women’s best friend.” I agree.
Bagaimana tidak, ketika orang lain sibuk adu argumen dengan pacar ”straight”nya yang tidak mau mengalah bahkan dalam hal-hal kecil, teman saya dengan pacarnya (yang ternyata gay) tersebut justru asyik berbelanja berdua sambil bergosip.
Mungkin anda akan berpikir, tulisan ini terkesan agak desperate dan pathetic. Tapi untuk saat ini, saya sendiri sudah mulai mencoba hidup dengan menyadari bahwa tidak ada laki-laki straight yang dapat mengerti wanita sebaik laki-laki gay mengerti wanita.
Jadi mungkin saya menyarankan kepada sebagian wanita yang masih mengeluh dengan tingkah pacarnya yang tidak peka, egois, dsb, dan berpikir bahwa suatu saat nanti pasti ada laki-laki yang benar-benar mengerti diri anda sepenuhnya, untuk tidak hidup dalam fairytale semacam itu.
Hadapi kenyataan bahwa laki-laki dan wanita tidak akan pernah sama, dan tidak akan pernah sepenuhnya saling mengerti satu sama lain.
Jika masih mendambakan laki-laki fairytale seperti tadi, pacari saja pria gay.
Believe me, it works.
-Karina-
01 Juli 2009
Saya Penulis?
Sehari yang lalu tiba-tiba saya menyadari bahwa sudah sangat lama saya tidak melakukan sesuatu yang sering saya lakukan di masa lalu. Menulis. Hal itu tidak sepenuhnya benar karena faktanya setiap minggu minimal saya menulis selembar tulisan akademik dalam bentuk review, makalah, atau apapun lah yang intinya tidak saya kerjakan dengan sukarela, melainkan karena tuntutan nama saya terdaftar sebagai mahasiswa sosiologi yang mencoba meraih gelar sarjana.
Namun definisi menulis yang saya maksud disini bukanlah tulisan akademik, melainkan tulisan yang memang dilahirkan karena adanya passion dari diri saya sendiri untuk menuliskannya.
Pada dasarnya saya memang suka menulis. Sejak kecil bahkan saya dengan kosa kata yang masih sangat minim sering sekali menulis cerita pendek, salah satu yang saya ingat mengisahkan tentang bocah kelas satu SD bernama Ani dan Ana yang saling bermusuhan karena suka dengan bocah laki-laki yang sama. (saya tertawa dalam hati karena bahkan saya masih mengingat nama karakter dan isi ceritanya yang sangat sinetron itu). Saya juga (percaya tidak percaya) sampai saat ini masih mengisi diary sekalipun tidak serutin waktu jaman SMP dulu. Enak sekali rasanya ketika bisa mengeluarkan sampah-sampah di dalam hati dan pikiran, juga top secrets kehidupan pribadi yang heboh tanpa harus diketahui siapapun.
Belakangan ini saya jarang sekali menulis. Bahkan diary saya sudah lama tidak saya sentuh. Mungkin ini karena intensitas menulis akademik saya sudah cukup menyita waktu dan pikiran sehingga untuk mencoba menulis hal lain yang lebih sederhana saja saya enggan. Apakah ini memang karena otak dan jemari saya yang sudah kelelahan atau hanya karena saya sudah terlanjur malas mencoba sedikit keluar dari sistem dan melakukan hal lain?
Beberapa teman dekat yang sangat mengenal saya pasti sangat tahu kalau impian terbesar saya adalah menjadi chief editor di majalah yang kata sebagian orang ”majalah kapitalis” itu, COSMOPOLITAN fun fearless female magazine, atau setidaknya menjadi columnist seperti Carrie Bradshaw. Spesifikasi Columnist sudah pasti mengharuskan saya untuk dapat menjadi penulis yang produktif. Untuk desk job chief editor pada dasarnya saya harus dapat menciptakan ide, mengkritisi, dan menganalisa tulisan-tulisan orang dengan baik, apa jadinya kalau diri saya sendiri tidak mengerti tentang tulisan yang baik, apa jadinya kalau saya sendiri bukan penulis yang baik?
Mimpi yang menjadi nyata tanpa melakukan suatu tindakan untuk menggapainya hanyalah mimpi yang kerap kali diceritakan dalam walt disney fairytales. Mulai hari ini saya akan mencoba menulis sesuatu yang benar-benar diinginkan hati saya lagi. Saya memang penulis.
Karina
1 April 2009
